Timnas Spanyol menegaskan dirinya sebagai penguasa sepak bola Eropa
setelah merengkuh Piala Euro 2012. Sebelumnya mereka juga berhasil
meraih piala yang sama empat tahun silam serta Piala Dunia pada 2010.
Banyak pengamat menilai kehebatan Spanyol terletak dari kolektivitas
bermain dengan umpan-umpan pendek cepat alias tiki-taka. Kini sejumlah
ilmuwan tertarik meneliti gaya permainan Spanyol memanfaatkan disiplin
ilmu Matematika seperti yang dilakukan Javier Lopez Pena dari University
College London dan Hugo Touchette dari Queen Mary University of London.
Seperti dilansir Technologyreview.com awal Juli ini, Pena
dan Mary meneliti karakteristik penampilan tim dan pemain sepak bola
menggunakan teori jaringan. Mereka mengklaim berhasil menyajikan data
kuantitatif gaya bermain tim berikut kelemahannya.
Setiap pemain dianggap sebagai sebuah titik (node) dalam sebuah
jaringan. Setiap bola yang diumpan ke pemain lain akan membentuk garis
penghubung dalam jaringan tersebut. Mereka lantas mendistribusikan
node-node tersebut untuk menunjukkan posisi bermain setiap pemain.
Gambar di atas adalah jaringan yang terbentuk dari permainan Timnas
Belanda (kiri) dan Spanyol (kanan) pada fase knockout pada Piala Dunia
2010 di Afrika Selatan. Kedua tim akhirnya bertemu di Final yang
akhirnya dimenangkan Spanyol.
Gambar tersebut dapat digunakan untuk menganalisis permainan kedua
tim, di mana Spanyol memiliki jumlah operan lebih banyak yang terlihat
dari ketebalan garis panah. Dari data pertandingan tersebut, pemain
Spanyol tercatat mengoper bola sebanyak 417 kali sementara pemain
Belanda hanya 266 kali.
Gambar tersebut juga menunjukkan pemain Spanyol yang paling banyak
mengoper dan menerima operan yakni Xavi (8) dan Sergio Busquets (16).
Analisis lain yang lebih kompleks juga dapat dilakukan menggunakan
data tersebut, antara lain efektivitas bermain dan kolektivitas
permainan.
Dari data tersebut, Busquets dan Xavi memiliki nilai lebih tinggi
dalam hal keterhubungan. Mereka berdua mengungguli pemain Belanda dengan
tingkat keterhubungan tertinggi, Steckelenberg (1).
Analisis lainnya adalah ketegantungan aliran bola pada pemain
tertentu. Hal ini penting demi menghindari salah pergantian pemain yang
akan mengganggu permainan keseluruhan tim. Dari data tersebut, pemain
Spanyol Joan Capdevilla (11) memiliki nilai tertinggi.
Ada juga analisis algoritma PageRank untuk menentukan popularitas
pemain dari jumlah operan yang ia terima dan berikan. Nilai tertinggi
dari data tersebut diraih Xavi.
Meski begitu masih ada kelehaman dari analisis semacam ini, di mana
data yang digunakan berasal dari beberapa pertandingan sehingga tak
dapat menggambarkan secara spesifik. Penentuan posisi node juga tidak
spesifik, karena dalam data tersebut hanya digunakan posisi pemain saat
memulai pertandingan, sementara selama pertandingan posisi mereka selalu
berubah cepat.

