Bola83 | Agen Judi Bola Casino Online Terpercaya

Ini Dia Cara Matematika Menganalisis Sepak Bola

Timnas Spanyol menegaskan dirinya sebagai penguasa sepak bola Eropa setelah merengkuh Piala Euro 2012. Sebelumnya mereka juga berhasil meraih piala yang sama empat tahun silam serta Piala Dunia pada 2010.

http://www.agenbola.site/2015/11/ini-dia-cara-matematika-menganalisis.html

Banyak pengamat menilai kehebatan Spanyol terletak dari kolektivitas bermain dengan umpan-umpan pendek cepat alias tiki-taka. Kini sejumlah ilmuwan tertarik meneliti gaya permainan Spanyol memanfaatkan disiplin ilmu Matematika seperti yang dilakukan Javier Lopez Pena dari University College London dan Hugo Touchette dari Queen Mary University of London.
Seperti dilansir Technologyreview.com awal Juli ini, Pena dan Mary meneliti karakteristik penampilan tim dan pemain sepak bola menggunakan teori jaringan. Mereka mengklaim berhasil menyajikan data kuantitatif gaya bermain tim berikut kelemahannya.

Setiap pemain dianggap sebagai sebuah titik (node) dalam sebuah jaringan. Setiap bola yang diumpan ke pemain lain akan membentuk garis penghubung dalam jaringan tersebut. Mereka lantas mendistribusikan node-node tersebut untuk menunjukkan posisi bermain setiap pemain.


Gambar jaringan sepak bola (technologyreview.com)
Gambar di atas adalah jaringan yang terbentuk dari permainan Timnas Belanda (kiri) dan Spanyol (kanan) pada fase knockout pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Kedua tim akhirnya bertemu di Final yang akhirnya dimenangkan Spanyol.

Gambar tersebut dapat digunakan untuk menganalisis permainan kedua tim, di mana Spanyol memiliki jumlah operan lebih banyak yang terlihat dari ketebalan garis panah. Dari data pertandingan tersebut, pemain Spanyol tercatat mengoper bola sebanyak 417 kali sementara pemain Belanda hanya 266 kali.

Gambar tersebut juga menunjukkan pemain Spanyol yang paling banyak mengoper dan menerima operan yakni Xavi (8) dan Sergio Busquets (16).

Analisis lain yang lebih kompleks juga dapat dilakukan menggunakan data tersebut, antara lain efektivitas bermain dan kolektivitas permainan.

Dari data tersebut, Busquets dan Xavi memiliki nilai lebih tinggi dalam hal keterhubungan. Mereka berdua mengungguli pemain Belanda dengan tingkat keterhubungan tertinggi, Steckelenberg (1).
Analisis lainnya adalah ketegantungan aliran bola pada pemain tertentu. Hal ini penting demi menghindari salah pergantian pemain yang akan mengganggu permainan keseluruhan tim. Dari data tersebut, pemain Spanyol Joan Capdevilla (11) memiliki nilai tertinggi.
Ada juga analisis algoritma PageRank untuk menentukan popularitas pemain dari jumlah operan yang ia terima dan berikan. Nilai tertinggi dari data tersebut diraih Xavi.
Meski begitu masih ada kelehaman dari analisis semacam ini, di mana data yang digunakan berasal dari beberapa pertandingan sehingga tak dapat menggambarkan secara spesifik. Penentuan posisi node juga tidak spesifik, karena dalam data tersebut hanya digunakan posisi pemain saat memulai pertandingan, sementara selama pertandingan posisi mereka selalu berubah cepat.